Senin, 06 Oktober 2014

Sesak di Siang itu~



Rasanya sudah berhari-hari aku tidak berkunjung ke mushollah fakultas. Rindu rasanya bermesra dengan Sang Pencipta ditempat itu. dengan langkai gontai sepulang UTS siang ini aku berjalan menuju mushollah di ujung fakultas. Senyumku mengembang saat kulihat ada halaqah yang tengah berlangsung disana, aku rindu, rindu sekali saat masjid/mushollah” dipenuhi dengan aktivitas” tarbiyah. Namun, saat kudekati aku semakin mengenal sosok-sosok yang tengah melingkar itu. aku mencoba menahan buliran hangat di ujung mataku. Nafasku tertaan, dadaku tersesak. Satu orang yang tengah dikelilingi dan menjadi perhatian itu kaka tingkatku, 3 tahun diatasku, kader militan harakah tetangga, pejuang khilafah . dan mereka, yang sedang mengelilingi itu, adik-adik tingkatku, beberapa mengenalku, karena merekalah yang akan aku proyeksikan sebagai penerus dakwah di kampus ini.

            Aku memasuki mushollah dengan pandangan tertunduk namun aku merasa ada sosok yang tengah menatpaku. Aku berjalan dengan bahasa tubuh tak suka sambil sesekali bersusah payah mendengar perbincangan mereka. aku sedikit melirik dan satu dua tiga, ada tiga pejuang khilafah dan empat ‘target’ mereka. sayup-sayup aku mendengar apa yang mereka bicarakan, selalu tak jauh-jauh dari Indonesia dan sistem pemerintahannya.
            Mbak, ajarkan mereka untuk tetap mencintai negeri ini seburuk apapun kondisinya saat ini. Mbak, jangan ajarkan mereka untuk menjauhi negaranya sendiri. Jangan ajarkan mereka untuk enggan menjadi pemimpin bangsa. Mbak, jangan buat mereka beranggapan bahwa tak adalagi yang bisa diharapkan dari pemimpin negeri ini.Mbak, bukankah mereka calon-calon pemimpin masa depan? Bukankah keberlangsungan negeri ini ada diatas pundak-pundak mereka. aku tau mbak, bukan kebencian yang kau ajarkan, tapi alangkah indahnya jika kita bersama membangun negeri ini, bukan malah merusak tatanan negeri ini. Bukankah tujuan kita sama mbak? Menjadikan Indonesia sepenggal Firdaus.
            Aku tak lagi mampu menahan buliran hangat diujung mataku. Aku berjalan setengah berlari, mencari tempat bersandar, dan disinilah aku sekarang. Dibawah pohon rimbun dengan sejuta sesak didada. Rabbi,  jadikan mereka pemimpin-pemimpin bangsa yang adil, arif, nan bijak di masa mendatang. Indonesia Milik Mu, maka ijinkanlah orang-orang yang menjadikanMu alasan dalam setiap langkahnya sebagai pemimpin masa depan bangsa ini. karenaaku percaya, harapan itu masih ada ..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © Menyibak Makna di Bawah Selaksa Senja Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger