Rasanya sudah berhari-hari aku tidak berkunjung ke mushollah
fakultas. Rindu rasanya bermesra dengan Sang Pencipta ditempat itu. dengan
langkai gontai sepulang UTS siang ini aku berjalan menuju mushollah di ujung
fakultas. Senyumku mengembang saat kulihat ada halaqah yang tengah berlangsung
disana, aku rindu, rindu sekali saat masjid/mushollah” dipenuhi dengan
aktivitas” tarbiyah. Namun, saat kudekati aku semakin mengenal sosok-sosok yang
tengah melingkar itu. aku mencoba menahan buliran hangat di ujung mataku. Nafasku
tertaan, dadaku tersesak. Satu orang yang tengah dikelilingi dan menjadi
perhatian itu kaka tingkatku, 3 tahun diatasku, kader militan harakah tetangga,
pejuang khilafah . dan mereka, yang sedang mengelilingi itu, adik-adik
tingkatku, beberapa mengenalku, karena merekalah yang akan aku proyeksikan
sebagai penerus dakwah di kampus ini.
Aku memasuki mushollah dengan pandangan
tertunduk namun aku merasa ada sosok yang tengah menatpaku. Aku berjalan dengan
bahasa tubuh tak suka sambil sesekali bersusah payah mendengar perbincangan
mereka. aku sedikit melirik dan satu dua tiga, ada tiga pejuang khilafah dan
empat ‘target’ mereka. sayup-sayup aku mendengar apa yang mereka bicarakan, selalu
tak jauh-jauh dari Indonesia dan sistem pemerintahannya.
Mbak,
ajarkan mereka untuk tetap mencintai negeri ini seburuk apapun kondisinya saat
ini. Mbak, jangan ajarkan mereka untuk menjauhi negaranya sendiri. Jangan ajarkan
mereka untuk enggan menjadi pemimpin bangsa. Mbak, jangan buat mereka
beranggapan bahwa tak adalagi yang bisa diharapkan dari pemimpin negeri ini.Mbak,
bukankah mereka calon-calon pemimpin masa depan? Bukankah keberlangsungan
negeri ini ada diatas pundak-pundak mereka. aku tau mbak, bukan kebencian yang
kau ajarkan, tapi alangkah indahnya jika kita bersama membangun negeri ini,
bukan malah merusak tatanan negeri ini. Bukankah tujuan kita sama mbak? Menjadikan
Indonesia sepenggal Firdaus.
Aku tak lagi mampu menahan buliran
hangat diujung mataku. Aku berjalan setengah berlari, mencari tempat bersandar,
dan disinilah aku sekarang. Dibawah pohon rimbun dengan sejuta sesak didada.
Rabbi, jadikan mereka pemimpin-pemimpin
bangsa yang adil, arif, nan bijak di masa mendatang. Indonesia Milik Mu, maka
ijinkanlah orang-orang yang menjadikanMu alasan dalam setiap langkahnya sebagai
pemimpin masa depan bangsa ini. karenaaku percaya, harapan itu masih ada ..
0 komentar:
Posting Komentar